Contoh kasus Adversity Quotion

Kasus 1 (The Climber)

Yudha adalah seorang mahasiswa yang rajin dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. oleh karena itu ia selalu berusaha memenuhi rasa keingintahuannya. Salah satunya adalah tentang PKM. Sudah beberapa kali ia mengajukan proposal PKM namun selalu tidak berhasil. Namun ia terus mencoba, walaupun selalu gagal. Suatu saat temannya berbicara, “Sudahlah yud, buat apa kamu terus-terusan mencoba menulis PKM, toh lagi-lagi kamu gagal. kamu hanya membuang waktu mu saja”. Mendengar perkataan temannya, Semangat Yudha tak juga surut, justru ia berbicara kepada temannya “Bagiku,waktu yang aku habiskan selama ini tidak ada yang sia-sia, karena aku yakin peluang itu selalu ada hanya saja butuh waktu untuk ku mendapatkan peluang itu”.

Kasus 2 (The Camper)

Lita adalah Mahasiswa yang cukup berprestasi. Beberapa waktu lalu ia baru saja memenangkan lomba di tingkat universitas. Suatu hari, ia mendapat tawaran dari dosen untuk mengikuti lomba antar universitas se-Jawa Barat. Namun ia menolak tawaran itu. ia merasa prestasi yang selama ini ia raih sudah cukup dan ia merasa sudah cukup sukses.

Kasus 3 (The Quitter)

Andi adalah seorang mahasiswa yang cukup pendiam diantara teman-temannya. Tapi dibalik sifatnya itu, ia memiliki bakat melukis yang bagus. Teman-temannya mengetahui itu, bahkan mereka sering menyuruh Andi untuk ikut pameran. Namun Andi selalu menolak, ia merasa bahwa dirinya tidak akan mampu bersaing dengan pelukis-pelukis hebat diluar sana ” Aku tidak punya bakat melukis yang bagus, diluar sana pasti banyak yang lebih berbakat dari ku, sudah pasti aku tidak akan bisa mengungguli mereka”.

Iklan

ADVERSITY QUOTIENT : KESIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN

Dalam hidup ini kita akan menghadapi berbagai permasalahan kehidupan dari yang paling kecil hingga masalah hidup yang besar, itu adalah salah satu jalan yang wajib kita lewati jika kita ingin sukses. Oleh karena itu kita perlu memiliki kemampuan Adversity Quotient untuk mengatasinya.

Apa itu Adversity Quotient?
Sebagaimana yang diungkapkan Stoltz (2000: 9) adversity quotient adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara teratur. Adversity Quotient memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1. Dapat menjadi indikasi atau petunjuk tentang seberapa tabah seseorang dalam menghadapi sebuah kemalangan
2. Memperkirakan seberapa besar kapabilitas seseorang dalam menghadapi setiap kesulitan hidup dan ketidakmampuannya dalam menghadapi kesulitan
3. Memperkirakan siapa yang dapat melampaui harapan, kinerja, serta potensinya, dan siapa yang tidak
4. Memperkirakan siapa yang putus asa dalam menghadapi kesulitan dan siapa yang akan bertahan (Stoltz, 2005).

Adversity Quotient memiliki beberapa Komponen yaitu CO2RE (Control, Origin and Ownership, Reach, Endurance).
1. Control (Kendali) yaitu seberapa besar pengendalian diri yang dimiliki seseorang dan seberapa besar pengaruhnya dalam menghadapi kesulitan yang ada. Semakin besar Dimensi C yang dimiliki maka semakin mudah menghadapi kesulitan yang ada, sebaliknya jika dimensi C yang dimiliki rendah maka ia menjadi tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan.
2. Origin and ownership (asal usul dan pengakuan) mempertanyakan apa yang menjadi asal usul kesulitan dan sejauh mana ia mengakui kesulitan yang dihadapinya. Jika nilai O2 tinggi maka anggapan bahwa kesuksesan itu selalu ada menjadi semakin besar.
3. Reach (Jangkauan) sejauh mana kesulitan akan menjangkau segi-segi kehidupannya yang lain. Jika AQ rendah maka segi-segi kehidupan akan kacau dan kesulitan akan dianggap sebagai bencana.
4. Endurance (Daya tahan) ini berkaitan dengan seberapa lama kesulitan itu berlangsung. Seseorang yang memiliki Endurance tinggi cenderung bersikap optimis dan memiliki harapan yang baik pada kesulitan yang dihadapi.

Apa saja tipe-tipe Adversity Quotient?
Scoltz membagi Adversity Quotient menjadi 3 tipe yaitu :
1. The Quitters (menjauh dari permasalahan), seseorang dengan tipe ini melakukan usaha yang sangat minim dan lebih memilih mundur saat menghadapi kesulitan.
Ciri-ciri:
– Memilih untuk keluar dan menghindari kewajiban
– Menolak kesempatan yang diberikan
– Murung,sinis, mudah menyalahkan orang lain dan membenci orang yang sukses
2. The Campers (Cepat merasa puas dan tidak mau mengembangkan diri), Kelompok ini kapasitas perubahannya tidak tinggi karena terdorong oleh ketakutan dan hanya mencari keamanan dan kenyamanan. Campers setidaknya telah melangkah dan menanggapi tantangan, tetapi setelah mencapai tahap tertentu, campers berhenti meskipun masih ada kesempatan untuk lebih berkembang lagi.
Ciri-ciri:
-Melepaskan kesempatan untuk maju
-Mudah berpuas diri
3. The Climbers (memiliki tujuan dan target), kelompok ini selalu berjuang dan optimis. ia mampu mengusahakan dengan ulet dan gigih dan memiliki keberanian dan disiplin yang tinggi. Climbers tidak dikendalikan oleh lingkungan, tetapi dengan berbagai kreatifitasnya tipe ini berusaha mengendalikan lingkungannya.
Ciri-ciri:
-Selalu memikirkan peluang
-pembelajar seumur hidup
-Tidak menyesali kegagalan

Adversity Quotient terbentuk dari proses pembelajaran sejak kecil hingga dewasa. Sepanjang proses perkembangan itu terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain :
1. Pola asuh orang tua
Orangtua sebagai pendidik utama bagi anak sejak kecil sangat berpengaruh pada perkembangan anak tersebut. Orangtua perlu memberikan pola asuh yang baik dalam pembelajaran keterampilan untuk menghadapi kesulitan dan tantangan di masa mendatang.
2. Pengaruh lingkungann keluarga
Keluarga menjadi tempat utama dalam mendidik anak dari kecil hingga dewasa. Oleh karena itu segala tindakan yang diperlihatkan di lingkungan keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak tersebut.
3. Pengaruh lingkungan sekolah
Sekolah adalah tempat menuntut ilmu, selain itu sekolah juga menjadi tempat pembentukan karakter. Disekolah anak mulai bergaul dengan teman sebayanya.
4. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan sekitar menjadi salah satu tempat utama bersosialisasi, karena itu lingkungan sangat berpengaruh. Jika lingkungan sekitarnya baik maka karakter yang terbentuk akan baik dan sebaliknya jika lingkungannya buruk maka karakter yang terbentuk pun buruk.

“Jangan takut untuk menghadapi tantangan yang terbentang di hadapan. Sesulit apapun masalah, ia takkan melebihi kemampuanmu untuk memikulnya” 

Sumber :
Iyus,Yosep dan Ai, Mardhiyah. Spirit & soft skill of Nursing Entrepreneur. 2010.
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jgmm/article/view/308/314 (Di akses 23 oktober 2013)
http://eprints.uny.ac.id/9771/2/BAB%202%20%2007104244092.pdf (Diakses 22 oktober 2013)
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/AKSIOMA/article/view/1279 (Di akses 22 oktober 2013)